Home / Forum / 5 Tradisi Tujuh Bulanan Hamil dari Berbagai Daerah di Indonesia. Sakral dan Sarat Makna Mulia

5 Tradisi Tujuh Bulanan Hamil dari Berbagai Daerah di Indonesia. Sakral dan Sarat Makna Mulia

Tujuh bulanan di Indonesia , BY NURMA ARUM

Sumber foto: IG @aurakasih via https://www.instagram.com

Tradisi yang dilakukan saat seseorang hamil sangat beragam di Indonesia. Yang paling populer dan mungkin sering kamu dengar adalah tradisi tujuh bulanan atau biasa disebut mitoni dalam adat Jawa. Acara ini memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai ucapan syukur, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama kehamilan hingga kelahiran, dan berisi doa-doa serta harapan baik kepada sang ibu dan anak.

Tradisi ini ternyata tak hanya berkembang di satu daerah saja lo. Ada juga beberapa tempat lain di Indonesia yang memiliki tradisi serupa. Kita simak yuk apa saja~

1. Orang Banjar di Kalimantan Selatan memiliki tradisi bernama Mandi-mandi Manujuh Bulanan (mandi tujuh bulan)

Mandi-mandi manujuh bulanan via www.youtube.com

Menurut laman Klik Kalsel, adat ini percaya bahwa orang yang hamil banyak diganggu oleh mahluk halus yang jahat, sehingga prosesi ini dilakukan untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan bagi si ibu dan bayi yang dikandung. Ibu yang hamil akan memakai pakaian yang indah dan perhiasan sambil memangku sebuah tunas kelapa yang diselimuti kain kuning berisi 41 macam sajian kue.

Selanjutnya ibu hamil akan dimandikan oleh wanita yang jumlahnya ganjil dengan disiram air bunga lalu dibedaki dengan beras kuning. Setelah dikeringkan, ia harus keluar dan menginjak sebuah telur.

Calon ibu juga akan duduk di atas alas kain berlapis, disisiri, dan disanggul. Terakhir, minyak akan dipercikkan dan doa-doa keselamatan akan dibacakan.

2. Bugis juga memiliki upacara adat yang satu ini, namanya Mappassili. Upacara ini dilakukan untuk mengusir malapetaka

Mappassili via stalktr.net

Dilansir dari laman resmi Budaya Indonesia, Mappasili juga dilakukan untuk mengusir bencana serta mengusir roh-roh jahat. Acara akan dimulai dengan iring-iringan lalu ibu hamil harus naik tangga sebanyak 7 anak tangga. Sang dukun akan membakar dan memutar-mutarkan dupa di atas kepala calon ibu. Acara ini dilanjutkan dengan memercikkan air dengan daun ke calon ibu.

Upacara dilanjutkan dengan Makarawa Bubua, yaitu mengelur perut. Dukun akan mengelus-elus perut sambil mengucapkan doa. Prosesi ditutup dengan sang dukun yang menyuapi calon ayah, ibu, dan orang tua pasangan serta ada juga rebutan hiasan berupa anyaman oleh ibu-ibu beranak perempuan.

3. Mambosuri merupakan tujuh bulanannya orang-orang Batak. Acara ini ternyata berisi kejutan lo

Mambosuri via www.findgroundmates.com

Dilansir dari laman Batak Gaul, orang tua yang anaknya sedang hamil tujuh bulan akan datang ke rumah anaknya tanpa pemberitahuan sebelumnya, tak lupa mereka membawa makanan kesukaan dan ikan mas agar anaknya bahagia. Setelah tetangga dan kerabat berkumpul, si boru akan memakan makanan yang dibawakan hingga kenyang. Sementara itu yang lain belum boleh menyicip sebelum calon ibu menyicip semua.

4. Sempat dilaksanakan Ruben dan Sarwendah, adat Jambi memiliki upacara tujuh bulanan bernama Menuak

Ruben-Sarwendah via www.fimela.com

Upacara Menuak ini dilakukan saat kehamilan memasuki usia tujuh bulan. Pihak yang akan melahirkan akan membawakan makanan kepada dukun beranak yang berupa nasi atau ketan kuning beserta lauk pauknya seperti ayam panggang jika mampu dan menggantinya dengan bumbuan kelapa goring jika tak mampu. Acara ini sekaligus menjadi bentuk bahwa sang dukun sudah “di-booking” untuk membantu persalinan nantinya.

5. Mirip dengan siraman, di Sunda ada upacara Tingkepan yang mana calon ibu akan disiram saat tujuh bulan mengandung

Ashanty via www.fimela.com

Perlengkapan yang dibutuhkan dalam prosesi ini ada cukup banyak seperti bubur tujuh macam, ketan atau juadah tujuh warna, takir potang, polo pendem, tumpeng 7, sajen siraman, dan jajan pasar.

Upacara diawali dengan sungkeman lalu calon ibu berganti memakai kemben untuk menuju ke tempat siraman. Saat siraman, air pertama kali disiramkan oleh sang ayah kemudian disusul ibu, kemudian orang tua pihak calon ayah dan para sesepuh.

Setelah itu masih ada berbagai tradisi seperti peluncuran telur, membuka janur, brojolan, ganti busana tujuh kali, angkreman, membelah kelapa, potong tumpeng, hingga jualan rujak.

Ternyata satu acara yang mirip saja bisa memiliki nama dan prosesi yang berbeda-beda ya. Namun, secara garis besar tujuannya sama yaitu memohon keselamatan dan menjauhkan dari malapetaka bagi si calon ibu dan anak yang akan lahir ke dunia. Kalau di daerah asalmu, ada tradisi seperti ini juga nggak?

Sumber : www.hipwee.com

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.