Home / Forum / Mengenal Lebih Dalam Prosesi Panggih dalam Pernikahan Tradisional Adat Jawa

Mengenal Lebih Dalam Prosesi Panggih dalam Pernikahan Tradisional Adat Jawa

Perempuan.com – Hai, Dear. Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas bersama beberapa prosesi yang mesti dilalui dalam upacara pernikahan tradisional adat Jawa, kali ini perempuan.com akan mengajakmu mengetahui beberapa prosesi yang harus dilalui selama upacara pernikahan tradisional adat Jawa, terutama selama prosesi panggih dilangsungkan. Berikut selengkapnya:

Prosesi Panggih
Prosesi panggih adalah prosesi inti sebuah pesta pernikahan dengan adat Jawa. Dalam bahasa Indonesia, ‘panggih’ artinya bertemu. Secara istilah, proses ini berarti merupakan proses di mana pada akhirnya pengantin pria dan pengantin perempuan dipertemukan dalam sebuah gelaran adat pernikahan yang diawali dengan kehadiran rombongan mempelai pria ke pihak mempelai perempuan dengan membawa sanggan. Sanggan di sini tak lain merupakan bagian dari seserahan yang melambangkan harapan akan keselamatan serta berlaku sebagai penebus.

Beberapa bagian inti dari prosesi panggih di antaranya:

1. Balangan Gantal

Proses ini ialah saat di mana mempelai perempuan dan mempelai pria diarahkan menuju titik panggih. Kurang lebih lima langkah sebelum sampai ke titiknya masing-masing, mempelai akan melemparkan sirih ke arah pasangannya. Mempelai pria harus mengarahkan ke dada mempelai perempuan, sementara mempelai perempuan mengarahkan sirihny ke paha mempelai pria. Filosofi dari prosesi ini ialah kasih sayang dan cinta dari suami kepada istri serta bakti istri pada suami.

2. Wijik

Dalam prosesi pernikahan adat Sunda, wijik dikenal dengan istilah Nincak Endog. Pada prosesi ini, mempelai pria diwajibkan menginjak sebuah telur dengan kakinya hingga pecah, kemudian mempelai perempuan yang akan membersihkan dengan tangannya langsung. Prosesi ini tak lain juga merupakan perlambang dari kesetiaan dan bakti istri pada suami.

3. Pupuk

Prosesi ini dilakukan ibu dari mempelai perempuan pada pria yang menjadi menantunya. Prosesi di mana ibu mempelai perempuan mengusap ubun-ubun mempelai pria ini ditujukan sebagai lambang penerimaan ibu mertua akan menantunya sebagai pemimpin putrinya dalam berumah tangga.

4. Binayang

Pada prosesi ini, ayah dan ibu mempelai perempuan akan menyampirkan sebuah kain sindur (biasanya berwarna merah) ke pundak mempelai yang berbahagia. Setelah kain sindur tersampir di pundak mereka, mempelai pria dan perempuan akan secara bersama-sama menuju pelaminan didampingi orang tua mempelai perempuan.

5. Bobot Timbang

Selanjutnya yakni prosesi bobot timbang. Pada prosesi ini, baik mempelai pria maupun mempelai perempuan akan duduk di atas pangkuan ayah mempelai perempuan. Mempelai perempuan di paha sebelah kiri dan mempelai pria di sebelh kanan.

Setelah keduanya duduk di pangkuan ayah mempelai perempuan, ibu mempelai perempuan akan bertanya pada suaminya mengenai manakah yang lebih berat dan kemudian akan langsung dijawab sama beratnya.

Filosofi dari prosesi ini adalah bahwa kedua mempelai sama-sama diterima dalam keluarga tanpa dibedakan statusnya apakah ia sebagai anak kandung atau sekadar menantu.

6. Kacar-kucur

Prosesi terakhir yakni prosesi kacar kucur yang tak lain merupakan perlambang dari pemberian nafkah dari suami pada istrinya. Selama proses ini berlangsung, mempelai pria akan mengucurkan bahan-bahan makanan berupa beras putih, kacang tolo merah, keledai hitam, beras kuning, dan kembang telon yang diletakkan dalam wadah ‘klasa bongko’ ke pangkuan mempelai putri. Di pangkuan mempelai perempuan. (nits)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.